Garis prestasi internasional kembali ditorehkan oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Denpasar di panggung dunia. Tim Karya Ilmiah Siswa (KISS) Smansa sukses memborong penghargaan bergengsi dalam ajang Shanghai International Invention and Innovation Exhibition (SHIE) 2026 yang berlangsung pada 11–15 Juni 2026 di Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Tidak tanggung-tanggung, dalam kompetisi inovasi yang diikuti oleh lebih dari 13 negara—termasuk tuan rumah China, Rusia, Arab Saudi, Polandia, hingga sesama negara Asia Tenggara—Smansa berhasil membawa pulang 1 Medali Emas (Gold Medal) dan 1 Medali Perak (Silver Medal).
Medali Emas berhasil diamankan oleh Tim MAGLERIC yang digawangi oleh lima siswi berbakat: Komang Riska Putri, Made Natasha Devi Rahyuda, Komang Laura Mesha Anandari Budiasa, Ida Ayu Alit Kirana Dewi, dan Ni Putu Diandra Pradnya Paramitha.
Di bawah bimbingan guru pembimbing, Ibu Luh Asri Martani, S.Pd., M.M., mereka menciptakan "MAGLERIC", sebuah patch topikal (koyo) berbahan alami yang dirancang khusus untuk mengatasi pitted keratolysis—infeksi bakteri pada telapak kaki yang kerap dialami oleh siswa atau atlet yang sering mengenakan sepatu dalam waktu lama.
Inovasi ini memanfaatkan potensi senyawa antimikroba dari ekstrak maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dipadukan dengan ekstrak daun sirih (Piper betle) serta kristal mentol. Kombinasi cerdas ini terbukti efektif menghambat bakteri penyebab infeksi, mengurangi bau kaki, memberikan sensasi sejuk, sekaligus mempercepat pemulihan kulit secara aman dan praktis.
"Ide ini berawal dari ketertarikan kami pada potensi antimikroba maggot BSF. Melalui pembagian tugas yang solid—mulai dari penyusunan paper, riset laboratorium, hingga simulasi presentasi bahasa Inggris—kami bersyukur bisa mengatasi tantangan tersulit kami di bagian packaging dan membawa pulang medali emas," ujar perwakilan Tim MAGLERIC. Bagi mereka, prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa ide dari bangku sekolah mampu bersaing di level dunia.
Prestasi membanggakan juga dipersembahkan oleh Tim NOCATA yang sukses menyabet Medali Perak. Tim yang beranggotakan I Late Ribas Eureka Putra Sedana, Luh Putu Ayu Maharani, dan Gede Dhita Kusuma Wijaya ini menciptakan "Nocata", sebuah salep luka bakar inovatif yang dilengkapi dengan perlindungan anti-UV.
Sama-sama dibimbing oleh Ibu Luh Asri Martani, S.Pd., M.M., Tim NOCATA mengombinasikan bahan alami berupa daun pegagan, daun binahong, dan ekstrak bunga gumitir. Dasar pemikiran mereka sangat humanis; banyak penderita luka bakar yang khawatir beraktivitas di luar ruangan karena paparan sinar matahari bisa memperburuk kondisi bekas luka. Dengan adanya formula pelindung UV ini, pasien dapat memulihkan luka sekaligus beraktivitas dengan nyaman.
"Kami memilih bahan alami karena kekayaan alam Indonesia yang melimpah. Selain itu, kami melihat masyarakat China sendiri sangat mempertahankan obat herbal. Proses di laboratorium mulai dari ekstraksi hingga penguapan memang sangat menyita waktu dan tenaga, namun raihan medali perak ini menjadi bentuk pengakuan luar biasa atas seluruh proses yang kami lalui," ungkap Tim NOCATA bangga. Mereka juga menambahkan bahwa komunikasi dengan juri internasional berjalan sangat lancar tanpa kendala bahasa.
Atmosfer kompetisi di Shanghai yang mempertemukan inovator muda dari berbagai belahan dunia seperti Thailand, Iran, Vietnam, Rumania, hingga Hong Kong dan Macau, memberikan pengalaman dan wawasan baru yang sangat berharga bagi kedua tim Smansa. Kompetisi ini memicu motivasi mereka untuk terus mengembangkan penelitian ke tahap yang lebih lanjut agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.